flatnews

Pers Minangkabau Bukan Pers "Di" Minangkabau

TENTU  banyak dari kita yang mengenal Yuliandre Dar­wis, Ph.D, ketua Program Stu­di Ilmu Komunikasi Fa­kultas Ilmu Sosial dan Ilmu Poli...


TENTU banyak dari kita yang mengenal Yuliandre Dar­wis, Ph.D, ketua Program Stu­di Ilmu Komunikasi Fa­kultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Andalas Padang–ia sudah menjadi dosen di FISIP Unand sejak 2006. Do­sen muda ini menyelesaikan stra­ta-1 di Fakultas Ilmu Ko­mu­nikasi Universitas Pa­djaj­a­ran (FIK-Unpad) Bandung (2994), melanjutkan pen­di­di­kan strata-2 di Program Pas­ca­sarjana University Technology Mara (UiTM), Selangor, Malaysia (sejak tahun 2005), dan menyelesaikan master tahun 2007) dan memperoleh gelar philosophy of doctor (Ph.­D) atau doktor dalam mass­ communication (ko­mu­ni­­k­asi massa) juga di UiTM, Sel­angor, Malaysia tahun 2010­­–saat ia berusia 30 tahun. Sel­ain sebagai seorang aka­de­misi, pemuda kelahiran Ja­kar­ta, tanggal 21 Juli 1980 itu me­mi­liki pengalaman ber­org­a­ni­sa­si yang cukup kaya. Ia per­nah jadi Presiden Mahasiswa Universitas Padjajaran (Un­pad) Bandung, jadi Uda Sum­bar Duta Wisata (2004) dan menjadi Duta Muda UNESCO 2007 yang mewakili Indonesia ke PBB Paris, sekaligus mem­be­rinya kesempatan me­ngun­jungi Berlin, Stuttgart, Itali, dan beberapa negara Eropa lainnya. Sewaktu mahasiswa pascasarjana, Yuliandre per­nah jadi Ketua Persatuan Pe­la­jar Indonesia (PPI) UiTM Sel­angor.
Selain mengajar pada stra­ta-1, Yuliandre juga mengajar pada Program Pascasarjana Studi Komunikasi pada FISIP Unand. Program studi Unand ini merupakan kerja sama dari Kementerian Komunikasi dan Informasi (Kominfo) untuk mencetak pakar hubungan masyarakat (Humas) pada lingkungan pemerintahan di seluruh Indonesia–termasuk pemerintah daerah (Pemda) provinsi/kabupaten/kota. Program pascasarjana strata-2 komunikasi Kementerian Ko­min­fo sudah dimulai sejak tahun 2012 bekerja sama de­ngan beberapa universitas dan Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia (ISKI)–Yuliandre Darwis juga sebagai Ketua ISKI Wilayah Sumatera Barat, untuk mendatangkan dosen dan tenaga pengajar kompeten sebagai akademisi dan praktisi di bidang komuniukasi. Te­na­ga pengajar, antara lain Prof. Dr. Alwi Dahlan, Dr. Ir­wan­syah, Erwin Arnada, Putra Na­ba­ban, dan yang lainnya. De­ngan mengemukakan dasar pi­kiran dan berbagai arg­u­men­ta­si, banyak kalangan meng­ha­rap­kan agar Program Studi Ko­mu­nikasi yang masih jadi ba­gian dari FISIP Unand ter­sebut secepatnya didewasakan/d­it­ing­­katkan menjadi Fakultas Il­mu Komunikasi Unand.
Selain penelitian untuk penulisan tesis master/dis­er­tasi doktor, Yuliandre Darwis juga melakukan penelitian yang diterbitkan atau di­pa­par­kan dalam berbagai forum na­sional-internasional. Fokus penelitian yang dilakukan, antara lain, penelitian komu­ni­kasi kesehatan, branding industri kreatif Indonesia, komunikasitourism, dan yang lainnya. Komunikasi ke­se­ha­tan dimulai dari kasus mis­komunikasi dokter dan pasien menghasilkan penelitian Hea­lth Communication : Effective Communication Between Me­dical Personnel and Patient (2011). Penelitian itu masih dikembangkan untuk menjadi rangkaian pedoman per­ku­liahan dan praktikal. Dalam bi­dang industri pariwisata, pe­nelitian mengenai industry kreatif Communication Media (E-Commerce) As A Supporting Factor In Indonesia’s Fashion Industry in The International Business Competition yang diterbitkan The International Journal of Or­ga­niz­stional Innovation, Volume 5, Num­ber 3, Januari 2013, dan penelitian mengenai Tour de Sing­karak sebagai bentuk bran­­ding daerah Sumatera Ba­rat yang membuat Yul­i­an­dre diundang Harvard University, Boston, AS, tanggal 26-30 May 2013, mempresentasikan penelitiannya: Analysis of West Sumatra Tourism Communication.
Untuk penyelesaian tesis master dan disertasi doktor, Yuliandre Darwis melakukan penelitian tentang A History of Minangkabau Press (1849-1945), sebuah penelitian relatif panjang/selama lima tahun (selama dua tahun untuk ke­per­luan penyelesaian tesis master dan tiga tahun pula untuk penyelesaian disertasi  doktor). Selain di daerah Su­matera Barat sendiri, dalam penelitian ia mengumpulkan data di Jakarta, Malaysia, dan di Negeri Belanda. Disertasi strata-3 (doktor) Yuliandre Darwis, sebagai syarat ke­lu­lusandoctorate in mass communication di UiTM, diring­kas­nya dalam bentuk jurnal in­ternasional dan dimuat di International Journal on Social Science Economics and Art, Edisi 2011. Tahun 2013, diser­ta­si itu diterbitkan jadi buku oleh LAP Academic Publishing, Germany. Direncanakan, Gramedia Pustaka Utama a­kan menerbitkan pula yang di­harapkan menjadi salah satu pan­duan program kuliah Se­ja­rah Pers Indonesia. Pada tahun 2013 Gramedia Pustaka Uta­ma menerbitkan bagian dari disertasi doctor Yuliandre ber­judul Sejarah Perkembangan Pers Minangkabau (1859-1945),­ diluncurkan Magister Ilmu Komunikasi FISIP U­nand dalam bedah buku di aula Fakultas Kedokteran U­nand di Limaumanis, Padang (23/12/2013), di mana Cucu Magek Dirih menjadi pem­bi­cara bersama Khairul Jasmi.
MENDAPATKAN buku Se­jarah Perkembangan Pers Mi­nang­kabau (1859-1945) dan undangan untuk hadir pada peluncuran/bedah buku ter­se­but, walau hanya sehari, Cucu Magek Dirih menyempatkan untuk membaca—seberapa dapat, dan menghadiri un­da­ngan dari saudara mudanya, Yuliandre Darwis. Rupanya, Cucu Magek Dirih dikon­di­si­kan menjadi pembicara ber­sama Khairul Jasmi dan pe­nga­rang buku Yuliandre sen­diri. Hadir pada pembukaan dan memberikan sambutan/membuka acara peluncuran/bedah buku itu, Rektor Unand Werry Darta Taifur Ph.D. , Dekan FISIP Unand Prof. Dr. Nusyirwan Effendi M. Hum hadir di pertengah acara bedah buku, dan ikut memberikan sumbangan pikiran terhadap penyempurnaan buku. Yu­lian­dre mengawali bedah buku dengan menyampaikan pe­ri­hal buku, riwayat buku, dan serba sedikit mengenai buku itu. Yuliandre Darwis, antara lain mengemukakan, kon­tri­busi masyarakat pers di Mi­nangkabau dan atau yang be­rasal dari Minangkabau ter­ha­dap sejarah dan per­kem­ba­ngan pers kebangsaan, dan dalam ikut memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.
Secara daftar isi, buku Se­jarah Perkembangan Pers Mi­nang­kabau terdiri atas empat bab, dan tiap bab terdiri pula atas beberapa bagian uraian/pembahasan. Selain ada pen­da­huluan, ringkasan isi, kata pengantar, dan sejumlah lam­piran, serta daftar pustaka. Bab 1, Sejarah Kebudayaan Mi­nang­kabau, meliputi Asal-usul Mi­­nangkabau; Budaya Mi­nang­kabau;, Krisis Minang­ka­bau pada Abad ke-19; dan Peranan Rantau. Bab 2, Se­ja­rah Perkembangan Islam Mo­dern di Minangkabau, yang meliputi Tumbuh Kembang Islam di Minangkabau; Kon­sep Kemajuan; Gerakan Modern; dan Pertentangan Kaum Muda dan Kaum Tua. Bab 3, Sejarah Perkembangan Pers di Minangkabau, meliputi: Ba­ha­sa Tulis dan Pers sebagai Peran Komunikasi; Bahasa Melayu dan Pers Minangkabau; Pers Minangkabau dari Masa ke Masa; dan Aktualisasi Per­jua­ngan Pemikiran untuk Bangsa. Bab 4, Sejarah Pers Islam di Minangkabau, perjalanan Pers Islam; Para Pelopor Pers Mi­nan­gkabau (disebutkan, sem­bilan tokoh dengan uraian profil singkat mereka); Ke­sa­maan dan Perbedaan Pers Islam dengan Lainnya; Wajah Institusi dan Organisasi di Bidang Sosial dan Pendidikan (diuraikan lima lembaga pen­didikan); dan Soeloeh Melajoe vs al-Munir dan Majalah al-Akhbar.
Selain ada sejumlah pembicara dalam bedah buku yang menanyakan dan mem­persoalkan beberapa hal tek­nis penelitian, teknis aka­demis, dan masukan bagi penyempurnaan buku, se­ti­daknya menurut pandangan Cucu Magek Dirih, memang seharusnya dibedakan antara “pers Minangkabau” dengan pers “di” Minangkabau. Yang pertama demikian kesan awal Cucu Magek Dirih dan ia ber­harap buku yang ditulis Yu­liandre membahas tentang bagaimana aspek/dimensi/corak dan atau kekhasan pro­duk pers/hasil kerja war­tawan yang berasal dari/me­miliki asal usul atau latar belakang alam pikiran dan budaya Minangkabau mem­berikan pengaruh/terlihat ada pengaruh/kelihatan suatu kekhasan dalam karya pers dari wartawan yang secara asal usul/ada memiliki latar belakang alam pikiran/bu­daya Minangkabau!? Ru­pa­nya, Yuliandre lebih me­nam­pil­kan perkembangan pers untuk periode sejarah ter­tentu (1859-1945) yang ber­langsung di Minangkabau. Padahal, Yuliandre menga­wali uraiannya tentang kemi­nang­kabauan (bab 1 dan bab 2) dan juga sembilan tokoh pers yang berasal dari atau secara asal usul memiliki alam pikiran atau latar belakang budaya Minangkabau!
Lalu, agak terasa me­lom­pat antara latar ke­minang­ka­bauan ke sejarah per­kem­bangan pers di Minangkabau. Menurut Cucu Magek Dirih, akan lebih baik bilamana didahului dengan uraian ten­tang arti dan pengertian pers/sejarah pers/peranan pers di dalam memajukan pemikiran dan mendorong pergerakan sosial—pendidikan-per­ju­a­ngan bangsa—baik secara umum maupun di Indonesia, sebelum masuk ke sejarah perkembangan pers di Mi­nang­kabau. Bilamana yang hendak ditampilkan adalah kesan dan pengaruh dari alam pikiran dan latarbelakang budaya wartawan yang secara asal usul berasal dari Minan­g­kabau pada karya pers/jur­nalistik mereka—analisis kar­ya dan kontens sejumlah be­rita/laporan/features dan tajuk rencana/editorial dan bahkan apa yang menjadi dasar-dasar pemilihan topik-topik liputan/kebijakan re­dak­sional (editoril policy) pada lembaga media yang dipimpin oleh tokoh pers/figures yang berasal dari Mi­nang­kabau atau memiliki alam pikiran/latarbelakang bu­daya Minangkabau!? Apa­lagi, contoh yang dijadikan obyek studi adalah sembilan tokoh pers dan juga ada lima lembaga pendidikan khas di Minangkabau!?
Mungkinkah Cucu Magek Dirih agak nyleneh dan terlalu mengada-ada dan atau terlalu berharap karena aspek close-nya dengan Yuliandre Darwis sebagai akademisi muda yang di mata Cucu Magek Dirih begitubrightness dan atau bahkan a rissing star on An­dalas University. What ever, suatu pandangan—bahkan persangkaan dapat saja dik­e­mu­kakan, atau bahkan se­buah harapan berlebihan juga pantas saja untuk disebut dalam forum akademis/yang terhormat. Mana tahu, Yu­liandre Darwis sendiri, dalam penelitiannya, sebetulnya mengarah ke sana. Walaupun bidang studinya komunikasi massa, toh ia seorang aka­demisi yang berada pada FI­SIP Unand atau setidaknya pada lembaga akademis, me­ngem­bangkan penelitian yang menganalisis aspek/dimensi/corak keminangkabauan da­lam karya—dalam hal ini da­lam karya pers/produk jur­na­listik (contens analysis), mi­saln­ya. Kalau tidak Yuliandre, mun­gkin saja akademisi mu­da potensial di FISIP Unand lainnya atau di Fakultas Hu­ma­niora/Fakultas Sastra Unand pula, insya Allah.

Karya : H. Sutan Zaili Asril
Padek Edisi 5/1/13

Artikel Terkait :

Opini 7029797364984319864

Posting Komentar Disqus Comments

item