flatnews

Menjelang Senja

Oleh : Angelique Maria Cuaca Mahasiswa Psikologi UPI YPTK (Cerpen ini ditulis dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional yang ke-54,  ...


Oleh : Angelique Maria Cuaca
Mahasiswa Psikologi UPI YPTK
(Cerpen ini ditulis dalam rangka menyambut Hari Tani Nasional yang ke-54, 
24 September 2014)


"Rayu, bicara tanah bagi petani sama halnya bicara udara bagi manusia. Manusia tidak bisa hidup tanpa udara. Begitu juga petani. Mereka tidak bisa hidup tanpa tanah. Dari tanah, mereka menanam dan menjual hasilnya ke pasar. Semuanya semata mata hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah anaknya. Coba dibayangkan bila tanah itu tidak ada, maka habislah kehidupan petani beserta anak - anaknya, " jelas Dayat sambil tersenyum.

***
Sore tadi di caffe dekat kampus Ababil, aku beserta Dayat dan Rayu memutuskan rehat di sana sembari menikmati senja. Kami memilih duduk di lantai dua agar bisa menikmati pemandangan. Awalnya kami di meja nomor 8. Kemudian pindah ke meja nomor 10. Alasannya pertama, karena lebih dekat dengan jendela dan bisa melihat pemandangan. Kedua, karena pelanggan yang sebelumnya duduk di sana telah beranjak dari meja itu.

Suasana yang lengkap. Sepoi angin yang masuk lewat jendela membuat kami makin nyaman duduk di sana. Di tambah lagi alunan musik jazz dan sebuah TV layar lebar di tengah ruangannya. Hiburan yang menarik di kala sehabis pulang kuliah. Kami duduk sembari menikmati pesanan masing masing. Aku dengan kopi miloku, Dayat dengan lemon tea nya, dan Rayu dengan seporsi mie pakai nasi yang ditemani  segelas teh manis hangat.

Setengah jam berlalu, pandanganku tertuju pada TV layar lebar. Seorang pembawa berita, ia perempuan, memberitakan tentang upaya petani di Matar menolak penggusuran yang dieksekusi oleh pihak kepolisian. Seorang ibu menangis berupaya menolak tindakan tersebut. Namun aparat seolah tidak peduli dan mencoba mengusir warga dari lokasi lahan. Aku melemparkan pandanganku ke Dayat. 

" Yad, lihat itu. Aku sedih melihatnya," ujarku. 
" Iya, Nggie. Aku juga sedih. Kenapa mereka tega bertindak seperti itu ya? "
" Entahlah Yad.. " 

Kami melanjutkan minum dan mulai larut dengan obrolan yang lain. Sejenak melupakan berita yang tadi. Seolah ada luka yang telah tertoreh dan kami berusaha untuk tidak menyadarinya. Kami mulai bercerita soal sawah. Jika diintip dari jendela, maka akan terlihat 2 petak sawah kecil yang dikelilingi oleh beton. Di depannya jalan aspal, di kiri kanan serta belakang adalah perumahan.

" Yad, papaku pernah cerita. Dulu di jalan Sawahan itu banyak sekali sawah. Ia bersama temannya sering main ke sana. Namun, tempat itu kini telah menjadi perumahan dan kantor kantor. Sama seperti dua petak sawah di sana," ceritaku sambil menunjuk ke luar jendela. Jalan Sawahan kira kira berjarak 1 kilometer dari kampus Ababil.
" Iya ya. Nama jalannya Sawahan, tapi sudah tidak ada sawah lagi," ujar Dayat sembari menyantap mie-nya Rayu. Gadis berambut ikal panjang itu sepertinya sudah kekenyangan. Aku ikut ambil bagian. Ikut menyantap mie.

" Sepertinya seru jika di sawah. Aku pernah lihat lukisan anak petani yang sedang duduk di atas punggung kerbau sembari meniup seruling. Aku membayangkan anak petani itu adalah aku," ujarku dengan mulut yang masih mengunyah mie.
" Sepertinya menarik. Ayahku punya sawah di Bukit. Jika mau, kita bisa ke sana lain waktu," ajak Dayat.
" Ada kerbaunya?" tanyaku.
" Ada. Jika mau, kita bisa naik di atasnya sembari meniup seruling," jawab Dayat.
" Iya, nanti kita dudukan Rayu di atasnya," kelakarku sembari melemparkan gulungan tisu ke Rayu.
" Masa aku yang naik kerbaunya? Aku ga mau, Anggie," protes Rayu.
" Tak apa, Yu. Nanti sekalian bisa makan kutunya kerbau," Dayat ikut bergurau.
" Enggak. Emang aku burung jalak?" Rayu mulai cemberut.
Aku dan Dayat tertawa melihat wajah mungil Rayu yang merah karena sebal. " Kita cuma bercanda kok," senyum Dayat.

*

Kira kira 30 menit setelahnya, mie serta nasi nya Rayu telah ludes oleh aku dan Dayat.  Mataku kembali tertuju pada TV layar lebar tadi. Pembawa acara mengabarkan sebuah kasus perampasan lahan lagi. Kali ini rumah yang dianggap liar di Swarna Dwipa digusur oleh PT Kereta Api milik Negara. Kepala PT itu dengan arogan menyatakan bahwa tanah itu adalah milik negara dan berhak diambil sewaktu - waktu. Sekali lagi, aparat keamanan bertindak menghalau warga yang mencoba mempertahankan rumahnya. Seorang ibu menangis dan berteriak, menyumpahi si penggusur. Tapi apa daya, si penggusur tetap meluluh lantak bangunan dengan traktor alat berat. Warga berupaya melawan, ibu - ibu menangis dan anak anak berlarian memeluk ibunya. Mereka juga menangis, karena ibunya menangis. Dayat ternyata juga seksama memperhatikan berita tadi.

" Kasus perampasan lahan terjadi di mana - mana ya Yad. Kemarin, sewaktu aku nonton berita di rumahpun juga begitu. Hanya tempat dan pelakunya saja yang beda. Kadang perusahaan perkebunan, kadang perkebunan tambang, dan kadang negara melalui badan usahanya. Kesamaannya ya sama - sama warga yang jadi korban, seringnya petani," ceritaku. Dayat terdiam. Ia menatap ke luar jendela dan kedua alisnya saling bertaut satu sama lain.

" Aku baru ingat. Aku pernah membaca berita online tentang kasus perampasan lahan di negara kita. Dari tahun ke tahun makin meningkat. Bahkan menyebabkan banyak korban serta kematian akibat tertembak di lahan, " ujar Dayat Pelan.
Akupun terdiam sejenak dan menelan ludah. " Lalu mengapa petani itu rela mati hanya untuk tanah saja?" tanya Rayu. Rayu yang awalnya tidak tertarik dengan obrolan kami ternyata ikut dalam perbincangan aku dan Dayat.

"Rayu, bicara tanah bagi petani sama halnya bicara udara bagi manusia. Manusia tidak bisa hidup tanpa udara. Begitu juga petani. Mereka tidak bisa hidup tanpa tanah. Dari tanah, mereka menanam dan menjual hasilnya ke pasar. Semuanya semata mata hanya untuk memenuhi kebutuhan hidup dan biaya sekolah anaknya. Coba dibayangkan bila tanah itu tidak ada, maka habislah kehidupan petani beserta anak - anaknya, " jelas Dayat sambil tersenyum. " Begitu ya," ujar Rayu sembari menganggukan kepalanya.

" Ngomong - ngomong, seminggu lagi bertepatan dengan Hari Tani Nasional. Apa yang akan kita lakukan?," aku melemparkan pertanyaan ke teman - teman. Rayu dan Dayat saling berpandangan.
" Aku lihat selebaran yang ditempel di mading dekat gedung A. Kalau tidak salah isinya tentang undangan diskusi umum tentang Hari Tani Nasional yang diadakan salah satu organisasi pemuda mahasiswa. Temanya : Mengecam 9 tahun Rezim Penguasa, Pemuda Mahasiswa Bangkit dan Berjuang Bersama Kaum Tani ," ujar Rayu.
"Waw... Temanya keren. Kapan acaranya?," tanyaku.
" Em, kalau tidak salah besok," jelas Rayu sembari mengingat - ngingat.
" Siapa yang kira - kira bisa kita hubungi?" tanya Dayat.
" Em, tadi kalau tidak salah kontak personnya si Agus, teman lokal kita," jawab Rayu.
" Agus??," ucap aku dan Dayat serempak.
"Iya. Si Agus. Memangnya kenapa?," tanya Rayu.

" Dia pernah mengajakku dan Dayat untuk ikut bergabung bersama ia dan teman - temannya. Tapi saat itu aku tidak terlalu merespon," ujarku.
" Hahahaha.. Akupun begitu. Tapi sudah sedikit tertarik karena pernah mendengar cerita Agus soal program 3 sama ke desa. Selain itu pernah melihat Agus dan teman temannya aksi di depan kampus teriak : Hentikan perampasan tanah, upah, kerja. Dulunya hanya sekedar tertarik, belum ada niat untuk bergabung," jelas Dayat.
"Apa itu 3 sama?," tanya Rayu lagi.
" Sama makan, sama tinggal, sama kerja," jawab Dayat.
" Lalu, apa kau mulai berniat untuk bergabung bersama mereka?," tanyaku.
" Iya. Aku tertarik. Aku mulai lebih mengerti tentang mereka karena obrolan kita tadi," jawab Dayat sambil tersipu.
" Aku juga mau bergabung. Lalu bagaimana denganmu?," tanyaku pada Rayu.
" Aku juga dong. Kalau kalian ikut, aku juga," jawab Rayu mantap.

Kami tak sadar kalau senja telah berlalu dan malam mulai mengganti kehadirannya. Aku melihat langit yang sudah menghitam dari balik jendela.
" Sepertinya kita harus pulang. Sudah jam 8 malam," ujarku sambil menatap jam tangan besi yang melingkar di pergelangan tangan kiriku.
" Yuk, lalu siapa yang akan menghubungi Agus?," tanya Dayat.
" Aku saja," Rayyu dengan cepat menjawab pertanyaan Dayat. Rayu sepertinya begitu bersemangat untuk ikut di diskusi umum itu besok.
" Baiklah, berarti kita tunggu kabar darimu Yu," ujarku dan Dayat serempak.

Kami menuju kasir dan segera pulang ke kos masing - masing. Berharap besok kami dapat terlibat lebih banyak untuk Hari Tani Nasional dan hari hari berikutnya.



Artikel Terkait :

Karya Seni 5754713868149890249

Posting Komentar Disqus Comments

item