flatnews

Arogan Adalah Bentuk Agresi Senior

                                                  

                                                           (oleh) M.Ichsan Efriananda

            (Ketua Departemen Agitasi dan Propaganda Liga Mahasiswa Nasdem Korkom UPI “YPTK)



 Setiap tahun Perguruan tinggi Negri maupun Swasta melakukan sebuah aktivitas rekruitmen, dalam hal ini Perguruan tinggi merupakan pusat dari tujuan mahasiswa baru untuk menggantungkan cita-citanya, calon mahasiswa baru berlomba lomba menjadi yang terbaik rela mengorbankan waktu, tenaga, materi demi mendapatkan sebuah label atau jati diri seorang mahasiswa di sebuah Perguruan Tinggi serta meski terjun dalam sebuah kompetisi, melanjutkan jenjang pendidikan ke Sebuah Perguruan Tinggi sebuah kesadaran bagi calon mahasiswa baru bahwa pendidikan merupakan sebuah senjata dan menjadi mahasiswa merupakan sebuah kebanggan.

Mahasiswa baru merupakan sebuah elemen masyarakat baru di dalam Perguruan Tinggi, bagaimana tidak, menjadi mahasiswa baru seperti ada dalam sebuah dimensi yang sebelumnya belum pernah di rasakan di jenjang pendidikan sebelumnya, elemen baru ini menjadi sebuah kekuatan penyegar di Perguruan Tinggi serta melahirkan pemikir pemikir baru.

Namun masuk Perguruan Tinggi tidak bisa lepas dari iklim senioritas, hal ini merupakan sebuah kewajaran dalam sebuah sistem akademis,mahasiswa baru akan masuk dalam sebuah fase dimana mereka harus sadar bahwa mereka adalah elemen baru di dalam kampus, dan begitu juga senior mereka merupakan elemen yang sudah lebih dahulu berada di perguruan tinggi dari pada elemen mahasiswa baru, hal ini akan menjadi sebuah aktivitas baru dalam dunia Perguruan Tinggi, yang mana mahasiswa baru akan tergabung dengan sendirinya ke dalam elemen yang sudah ada.

Dalam dunia Perguruan Tinggi sebuah pemaknaan senioritas sering di salah artikan oleh beberapa senior atau pun mahasiswa  yang di anggap tempat bertanya bagi mahasiswa baru, salah arti ini bisa di lihat dari sikap arogan para senior, tak jarang sebuah sikap arogan lahir dalam diri senior, sikap arogan yang menjadi sebuah agresi terhadap mahasiswa baru, sikap arogan sudah pasti menyangkut terhadap cara berkomunikasi atau pun bertindak dengan mahasiswa baru, yang sudah pasti berbicara angkuh, bebal dalam bertindak yang bermuara pada munculnya stigma bahwa dia lah mahasiswa yang paling kuat, paling tau, paling pintar yang semua ini di kemas oleh berlagak arogan .

Namun terkadang sering lupa bahwa kekuatan itu bukan berasal dari sikap arogan yang menimbulkan agresi terhadap mahasiswa baru, tak jarang sebuah sikap arogan akan menjadi sebuah ancaman balik, jika kita pernah membaca cerita tentang Adlof Hiter dalam buku Mein Kamf, ketika itu Adlof Hitler terhenti akibat sikap arogan yang mana penyerangan tentara Nazi ke Rusia, Hitler bertindak arogan terhadap tentaranya dan sangat keras kepala dengan keyakinannya merasa paling hebat, tau, dan pintar serta mengangkat kepala, ketika itu hitler arogan mengambil keputusan dalam strategi perang nya menyerang langsung ke kandang lawan (Rusia) dan beranggapan dengan arogan tentara nazi sudah pasti menang dan menguasai Rusia secara sepenuhnya, namun fakta di lapangan berbeda, militer Rusia dan perangkat sipil mampu memeukul mundur pasukan Nazi, dan ke aroganan Hitler sudah terbukti menjadi ancaman bagi dirinya sendiri membuat pasukannya sendiri menyimpan rasa tidak senang terhadap Hitler, sejarah tersebut bisa memberi pelajaran bahwa sikap arogan berpotensi memiliki akhir yang buruk.

Dalam segi interaksinya sikap arogan pada mahasiswa baru yang melekat pada diri senior akan menimbulkan sebuah agresi senioritas di lingkungan Perguruan Tinggi, agresi yang berdampak pada terciptanya sebuah iklim ketakutan, sebuah menu komunikasi yang menakutkan bagi mahasiswa baru, arogan sangat berbanding dengan sikap ramah, sikap arogan hadir sebagai watak yang membenarkan bahwa yang lebih dulu masuk perguruan tinggi, lebih kuat, lebih pintar, bahkan seperti raja raja kecil di tanah Jawa kuno, sedangkan sikap ramah terhadap mahasiswa baru akan tercipta watak demokratis, bahwasannya semua mahasiswa itu sama yang membedakan hanya label masuk Perguruan Tinggi dan No Induk Mahasiswa.

Aktifitas Agresi yang berasal dari sikap arogan ini sudah seharusnya dihapus dalam lingkungan Peguruan Tinggi, sikap yang menganggap dirinya dewa harus perlahan di renungkan karna sangat tidak linier dengan semangat domokrasi di lingkungan Perguruan Tinggi, sudah saat nya di ciptakan senioritas yang demokratis bermuara pada kesetaraan hak berintegritas di dalam perguruan tinggi.


Artikel Terkait :

Opini 3769866836923676990

Posting Komentar Disqus Comments

item