flatnews

Mahasiswa Bertaruh dalam Ragu dan Menjadi Optimis

oleh
Boy Hilman
(Mahasiswa Psikologi '13)

Bertaruh adalah sebuah harga diri. Mahasiswa mestinya melihat keinginan untuk bertaruh ini dan menanamkan pada dirinya pertaruhan-pertaruhan kecil atau besar sekalipun. Pembahasan kali ini bukanlah hasil untung rugi atau menang kalah. Namun sisi menarik disini adalah sejauh mana kita sudah bertaruh apakah masih mencapai ragu atau sudah mencapai titik optimis.

Kita sadar ada hal perbedaan kepentingan untuk sebuah pertaruhan-pertahuan yang diciptakan tapi saya juga sangat yakin pertaruhan tersebut sedikit banyaknya adalah sebuah kepentingan umum yang masih sering diusik ego individu. Mahasiswa yang merupakan tameng untuk rakyat, seharusnya tidak menjadi benteng yang berdiri tegak saja atau siap mental menerima pijakkan dari penindasan yang akan tercipta entah karena pribadi atau sekelompok golongan.

Bisa saja semuanya berjalan apa adanya, tapi tentu tak bisa begitu itu saja. Semangat untuk mengejar cita bersama menjadi pelurunya dan teman seperjuangan menjadi body senjatanya. Gangguannya pun tak sederhana menarik pelatuk dan melesatkan peluru, angin yang mengganggu bahkan getaran yang terjadi sebelum pelatuk ditekan, namun taruhan di sana melalui pertimbangan yang masih ragu untuk mampu berubah optimis. Tak ada yang memaksa jika mahasiswa harus berjuang mati-matian dengan gerakan moralnya atau tak pernah menyetujui begitu saja gerakan tersebut tanpa pertimbangan yang jelas. Seperti pemaknaan yang tak habis-habisnya kalaulah seni itu indah namun segi normatif agama mengacaukannya dan sering membuatnya berbelot. 

Belajar dari sejarah memang tak mungkin sejarah tercipta begitu saja walaupun faktor alamiah selalu masuk kedalamnya. Ada keinganan-keinginan merubah suatu yang kecil yang sering terlupa seperti membuang sampah atau mematikan kran air di toilet atau menyusun sepatu agar terlihat enak dipandang. Lain lagi, pada saat batasan ketika mahasiswa terlambat atau dosen datang terlalu cepat masih saja menjadi kontroversi yang secara diam diember-emberkan namun tak banyak mereka  mau bertaruh dan sekali lagi masih ragu-ragu.

Keraguan ini yang masih menjadi tanda kecil kita tak bisa bertaruh besar, karena keraguan-keraguan kecil seperti di atas masih tumbuh menjadi pagar kotoran yang semakin lama semakin besar. Semoga saja dialog satu arah ini akan lebih menyadarkan saya ketimbang menyadarkan orang lain. Namun sekali dua kali itu masih menjadi tanggung jawab saya, anda, atau kita semua untuk melakukan pertaruhan bahwa semua yang terjadi atau kesalahan yang bisa kita perbaiki sebenarnya mampu diperbaiki walaupun kita masih menunggu hasil pertaruhan itu seperti apa maksud dan hasilnya nanti.

Salam Mahasiswa !

Artikel Terkait :

Opini 3426052125850306458

Posting Komentar Disqus Comments

item