flatnews

Kelembagaan Mahasiswa, Krisis Pemimpin

GELEGAR(05/01) –Pemilihan Raya (PEMIRA) merupakan proses demokrasi tertinggi di Republik Mahasiswa (REMA) UPI “YPTK”, dalam...






GELEGAR(05/01) –Pemilihan Raya (PEMIRA) merupakan proses demokrasi tertinggi di Republik Mahasiswa (REMA) UPI “YPTK”, dalam perhelatan satu kali dalam satu tahun ini menentukan masa depan REMA UPI “YPTK” satu periode kedepannya, dikarenakan agenda besar ini mencari pemimpin baru yang menahkodai REMA UPI “YPTK” satu periode kedepan, dalam artian mencari Presiden dan Wakil Presiden masa bakti 2015/2016. Agenda pemira yang dilaksanakan setiap bulan Desember ini meliputi agenda mulai dari: pemilihan dan pelantikan ketua pelaksana, sosialisasi agenda, uji kelayakan bakal calon, kampanye, pemilihan umum, serta sidang umum.

Pada 10 Desember 2015, pendaftaran calon Presiden dan Wakil Presiden mulai dibuka namun hal ini tak sesuai dengan harapan dikarenakan tidak adanya pasangan calon yang mendaftar, rasa pesimis timbul dari berbagai pihak, apakah dengan kapasitas mahasiswa lebih dari seribu tiga ratus orang tidak ada yang mampu bahkan berani memimpin REMA UPI “YPTK”, dengan demikian panitia pelaksana kembali membuka pendaftaran pada 14 Desember 2015 namun kondisinya sama dengan sebelumnya tidak ada pasangan calon yang mendaftar, hal ini menambah hantaman pesimis dalam lembaga kemahasiswaan REMA UPI “YPTK”, krisis kepemimpinan seolah-olah kampus kuning lubuk begalung ini mandul dalam mencetak pemimpin. Panita pelaksana tidak patah arang dan kembali membuka pendaftaran pada 17 Desember 2015, kekompakan dan kerja keras ini membuahkan hasil maka PEMIRA 2015 menetapkan pasangan calon untuk memimpin REMA UPI “YPTK”, meskipun hanya satu pasang yakni Randi Nuari (FKIP) dan Widya Sartika (FILKOM).
Dalam kontestasi pencalonan Presiden dan wakil Presiden, banyak harapan dipikul dan syarat yang harus dipenuhi, untuk syarat menjadi salah satu kendala bagi mahasiswa yang ingin mencalonkan diri, seperti yang diungkapkan Sekjend UKM WK-Soskem, Nurdin Hamzah Hidayat “salah satu kendala dalam pencalonan adalah syarat-syarat kelayakan, yakni syarat yang sudah tertuang kedalam AD-ART REMA UPI “YPTK”. Ungkap Hamzah.

Dalam proses demokrasi pasti ada sebuah wadah yang melahirkan kader-kader yang akan menjadi pemimpin, dalam pendaftaran calon pada PEMIRA 2015 ini tidak ada satu pun wadah organisasi yang mendaftarkan kader kader terbaiknya sampai pendaftaran di buka dua kali.
Hal tersebut juga diungkapkan Nurdin Hamzah Hidayat “ seharusnya organisasi bisa melahirkan kader kader terbaik di REMA UPI “YPTK”, saya ibarakan organisasi yang ada sekarang ini lemah jantung, karena banyak kader yang terkejut dengan tanggung jawab kedepan, seharusnya setiap organisasi melahirkan sosok pemimpin baru bukan hanya petugas event saja, masalah ini menjadi perhatian kita bersama agar organisasi kemahasiswaan cepat berbenah untuk SDM yang siap memimpin dan siap di pimpin.” Pungkas Hamzah   
    
Krisis pemimpin yang menjadi hal penting diperhatikan saat sekarang ini, juga mendapat tanggapan dari Presiden Mahasiswa periode 2014/2015, Aris Setia Budi, Aris menjelaskan “kondisi saat sekarang ini penyebabnya adalah; pertama, kurangnya mental kepemimpinan karena beban tanggung jawab melanjutkan petisi, Kedua, ketidaksiapan dalam persyaratan sehingga syarat syarat tak dapat di penuhi, Ketiga, kepuasan standar pencapaian kabinet saat sekarang ini (Ranah Juang) maksimal, jadi sulit bagi para calon pemimpin mempertahankannya, Keempat, tidak matangnya pengkaderan di masing masing organisasi.” Jelas Aris Setia Budi.
(Moh Ichsan Boer)

Artikel Terkait :

Seputar Kampus 2571392191876217526

Posting Komentar Disqus Comments

item