flatnews

Antara Mirna, Jesica, Kopi, dan Kematian

Oleh : M.Ichsan Efriananda, Padang, 30 Januari 2016

 

Akhir-akhir ini atau sekitar seminggu lebih publik dihebohkan kematian seorang wanita yang bernama Mirna, kematian bisa dianggap janggal, ya begitulah kata media Kejanggalan ini memacu jantung pihak kepolisian untuk mengungkap, tak mau kalah jantung msyarakat seakan mau bocor juga mengikuti kasus kematian wanita ini.

Bagitu melihat berita baik online, cetak serta televisi lebih dari dua berita per hari tentang berita kematian Mirna, satu media online dalam sehari mempubliskasikan lebih dari dua berita perhari tentang kematian Mirna, media cetak begitu juga kasus kematian Mirna menghiasi kertas redaksi mereka, dan tak lupa juga televisi berita kematian Mirna tak ubah seperti iklan sabun kecantikan yang sering di ulang ulang.

Terkadang timbul tanda tanya siapa dia yang bernama Mirna?, apakah teman SD anak presiden,mentri ?, teman SMP ?, atau cucu dari teman kuliah bung Hatta dulu ketika kuliah di Belanda, oh mungkin Mirna anak seorang petingi negri ini atau orang yang memiliki hak yang lebih untuk diberitakan media tentang kematiannya.

Nah selain Mirna ada juga Jesica, entah siapa lagi Jesica ini, banyak media yang mengabarkan Jesica adalah tersangka pembunuhan Mirna, ya Jesica mendadak jadi perbincangan mengalahkan perbincangan tentang Freport yang entah seperti apa nasibnya sekarang, atau nenek tua yang gantung diri karna tak mampu menghidupi cucunya.

Media di Indonesia saat sekarang seakan-akan mendapatkan durian runtuh dari berita tentang kematian tragis wanita ini, atau pun tentang Jesica yang menjadi tersangka pembunuhannya, mungkin karna terbunuh melalui secangkir kopi yang di sela harum cafein terdapat molekul racun yang merenggut nyawa Mirna. Media tak henti hentinya memberitakan tentang kematian ini, heboh, riuh dan masyarakat pun ikut terhipnotis.

Berbicara tentang soal berita kematian, berita tentang kematian Mirna sangat jauh berbeda sekali dengan kematian Salim Kancil seorang aktivis lingkungan yang tewas menggenaskan di tangan para mafia tambang beberapa waktu lalu. Media seakan akan buta atau mungkin tak ada uang masuk ke pundi pundi redaksi untuk memberitakan tentang kematian rakyat yang memperjuangkan hak nya, "malang sekali nasib Salim Kancil", kenapa media tidak gencar memberitakan kematian salim kancil yang jelas-jelas sebagai pahlawan lingkungan. "Ya mungkin kematian Mirna lebih elegan karna racun dan Salim Kancil ditusuk pisau di bagian kepala,dada,perut dan sedikit pijakan sepatu boot di wajahnya, jadi media sedit ngeri memberitakan kematian ini.

Kematian Mirna memang pihit dan Jesica jadi tersangka begitu membuat publik marah, dan mungkin saja merubah rasa kopi pada hari ini, namun bagaimana dengan berita tentang kejanggalan kematian para rakyat kecil contoh Salim Kancil atau sang nenek mati karena bunuh diri yang tidak mampu menafkahi cucunya, "ini lebih pahit lagi" mungkin kejanggalan kematian mereka kurang menarik bagi media.

Artikel Terkait :

Opini 3425764001082221057

Posting Komentar Disqus Comments

item