flatnews

Seni Beraroma Politik

                                                    Oleh: Nurdin Hamzah Hidayat

           (Sekretaris Liga Mahasiswa NasDem koorkom Universitas Putra Indonesia”YPTK”Padang)




Dalam masa orde lama yaitu rezim Ir. Soekarno yang memiliki aroma perjuangan revolusi di mata masyarakat dan sangat dirasakan dalam kehidupan bermasyarakat. Begitupun dengan pendidikan yang semakin terbuka dan berunsur perjuangan dalam melawan imprealisme amerika yang dikenal sangat mempengaruhi masa revolusi pada saat itu. Dikutip dari taufiq ismail bahwa falsafah seni adalah manusia(rakyat).

Bentuk perjuanganpun kian berubah beberapa tokoh sebut saja soekarno dengan partai nasional indonesia, membuat aroma kehidupan perjuanga menggelora kearah seni rakyat, terang saja soekarno dengan paham Marhaenisme-nya membuat sebuah langkah mendekatkan diri kepada masyarakat secara berkesenian. Hadirlah pada masa itu dibawah PNI sebuah lembaga kesenian nasional(LKN) menjadi alat menyeruakan paham yang sangat dekat dengan buruh dan tani. Tidak kalah dengan Lembaga seni yang dibuat dibawah naungan partai nasionalis indonesia, PKI dengan Lembaga kesenian nya pula membuat basis yang lebih besar dan begitu menyentuh hati rakyat. Jelas bahwa partai-partai kiri mulai mengarah dengan mengikat masyarakat dalam berkesenian.

Tidak ingin kalah sebuah partai yang mengusung ideologi kiri (sosialisme) pun ikut andil dengan membuat basis kesenian rakyat yang bernama Lembaga Kesenian sosialis, hal ini ditiru oleh beberapa partai bernuansa hijau yaitu MASYUMI pada masa itu.

Gejolak politik membuat arah bangsa indonesia menjadi semakin berkesenian, wajar saja jika sebuah negara berbudaya dan penuh dengan beraneka ragam seni ini menjadi sangat jelas terlihat, namun sayang langkah ini malah membuat persaingan politik secara terang-terangan memanfaatkan seni sebagai alat politik, lukisan-lukisan mulai mengarah pada lambang elemen partai dan puisipun dimanfaatkan dengan menggait tokoh seni yang berideologi sama.

Perang ideologi pada masa orde lama menjadi kesan dialektika didalam catatan sejarah, sebuah perang dengan pemanfaatan dan penggulingan serta fitnah bisa diterima dengan masuk akal. Seni bukan politik pun mulai bersuara dikalangan aktivis seni pada masa itu , karna melihat ada dua warna yang bersebrangan maka beberapa pula mengambil posisi netral, namun ini menjadi gambaran bahwa netral namun berada di kondisi yang salah adalah kebodohan karna para aktivis seni memandang seni adalah kenetralan dan hanya memihak pada rakyat.

Lukisan penolakan akan suatu partai pun menjadi sebuah skema realitas yang biasa dimasyarakat, para tokoh-tokoh jatuh akibat fitnah-fitnah politik namun kehebatan para aktivis politik pada masa itu adalah menghancurkan musuh berbeda ideologi dengan tangan orang lain. Tak luput dengan segi pemaksaan, lembaga kesenian dibawah partai politikpun ikut memainkan peran media kreasi mereka mulai berperang nyata dan seharusnya sejarah itu dapat dipelajari dengan gamblang oleh masyarakat bukan ditutupi.

Sebuah realitas seni dan politik juga terlihat di tahun 1966-67 dan 1997-98 yang dimana elemen partai politik yang masih tetap ada yaitu PRD (partai rakyat demokratik) pun mengambik peran dengan menggaungkan tulisan dan puisi serta sajak perlawanan terhadap masa orde baru dibawah rezim soeharto. Terang saja ditahun 1998 adalah puncak pergolakan yang telah disusun rapi dengan perjuangan militansi aktivis kiri, lagu-lagu perjuangan rakyat dan mahasiswa bergema disetiap radio-radio dan dimainkan disetiap perkumpulan. Masa itu kitapun mulai dikenalkan dengan nama Wiji Thukul seorang aktivis seni dan politik dari PRD.

Tiada yang salah dengan seni bernuansa politik,  karna pelaku seni yang menyebut diri anti partai politik namun ikut andil dalam sikap politik adalah kepura-puraan yang diterang-terangkan.

Sebuah perjuangan rakyat haruslah mampu dekat dengan rakyat bukan malah merenggang dengan rakyat, ini pula yang harus dan patut diusung oleh partai politik manapun yang berusaha untuk mengembalikan khita pergerakan melawan imprealisme barat namun rasional dan demokratis, restorasi surau jo nagari yang diusung oleh partai NasDem adalah kepoloporan dalam merestorasi semua hal-hal baik dalam sikap keterusterangan. Seperti yang dikatakan oleh seorang tokoh Surya Paloh pada suatu kesempatan, bahwa “orde lama” tidaklah dibuang sejarahnya seperti yang ditutupi oleh masa orde baru selama 32 tahun itu, namun yang baik-baik dan rasional harus dipakai dan disesuaikan.”.

Indonesia sebagai bangsa yang besar dan beraneka ragam kesenian telah berada dalam kondisi multikultural sejak sebelum bangsa ini menjadi Republik Indonesia, maka bukan hal aneh lagi bagi masyarakat jika pergolakan politik,seni,adat,ras,suku dan agama menjadi makanan keseharian, tiada hal yang memaksa mereka untuk takut. Karna sebuah elemen partai politik harus mampu memainkan peran dan seninya dalam kehidupan masyarakat, tentu saja tidak luput dari sebuah kekuatan demokrasi yang telah ada dan digunakan dimasa soekarno, kepercayaan masyarakat haruslah kembali ke partai politik sebagai keterwakilan rakyat,bukan lah depolitisasi dan apolitis dengan progam kemasyarakatan, pendekatan yang termudah kemasyarakat adalah seni , maka seni sangatlah sulit dilepas dari perang politik.

Suatu kondisi saat ini haruslah mengatakan bahwa elemen pendidikan pertama dalam demokrasi adalah mengatakan bahwa demokrasi bukanlah tujuan, namun demokrasi adalah alat untuk mencapai tujuan. Ini adalah semangat restorasi berkesenian yang harus mengemuka dimasyarakat dan tidak tumbangkan oleh media yang cenderung mengambil sisi perebutan kekuasaan.

Artikel Terkait :

Opini 1936374555949870340

Posting Komentar Disqus Comments

item