flatnews

Indra Azwan 23 Tahun Melanglang Buana Mencari Keadilan

GELEGAR (09/03) – Pada tahun 1993 silam ada kasus tabrak lari oleh salah satu anggota kepolisian kota Malang, yaitu Joko Sumantri. Korb...


GELEGAR (09/03) – Pada tahun 1993 silam ada kasus tabrak lari oleh salah satu anggota kepolisian kota Malang, yaitu Joko Sumantri. Korbannya adalah Rifki Andika, anak pertama dari Bapak Indra Azwan. Beliau sudah melaporkan peristiwa ini ke kepolisian setempat, dan pelaku baru disidangkan pada tahun 2008 dimana majelis hakim berpendapat kasus ini sudah kadaluarsa.

Menanggapi putusan tersebut, melalui Oditur militer Indra mengajukan Peninjauan Kembali di Mahkamah Agung yang dimasukkan pada Juli 2014 yang sampai saat ini tidak diketahui telah putus atau belum.

Pada tahun 2010 Indra melakukan aksi jalan kaki dengan tujuan Mekkah. Dimana beliau melalui beberapa negara, seperti Malaysia, Thailand tanpa mengerti bahasa asing. Indra mengatakan bahwa, “Ketika diluar negri saya hanya mengandalkan bahasa monyet alias bahasa isyarat untuk berkomunikasi dengan orang yang ada disana.” Sebelumnya beliau sudah melakukan berbagai macam aksi, salah satunya adalah aksi mogok makan di depan Istana Negara.

Indra kembali melakukan aksi jalan kaki, terhitung mulai 08 Februari yang lalu. Rute jalan kaki tersebut dari Aceh sampai Papua, ini artinya se-Nusantara. Tujuan aksi ini salah satunya adalah terkait terlambat dan sulitnya administrasi Mahkamah Agung dalam mengirimkan salinan putusan.

Pada (08/03) Indra Azwan sampai di Padang, yang mana kota sebelumnya yang dikunjungi adalah Pekanbaru. Indra berkata, “Aksi ini saya lakukan untuk mendapatkan keadilan sesuai dengan undang-undang, sambil menyampaikan kepada masyarakat luas bahwa hukum di Indonesia bobrok.”

Sebelumnya Indra pernah melakukan pertemuan dengan Presiden RI, waktu itu masih Bapak Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden berjanji akan menuntaskan kasus ini, dan beliau diberikan uang sebesar Rp. 25.000.000,- kemudian pada 2012 dikembalikan lagi. Dimana berita pengembalian tersebut ditayangkan secara live di 23 negara.

“Saya diberikan uang sebesar Rp. 25.000.000,- tapi tidak saya gunakan, dan akhirnya saya kembalikan. Yang saya butuhkan adalah keadilan, bukan uang. Uang tersebut adalah uang negara, bukan uang pribadi Pak SBY. Jadi saya bisa menyimpulkan bahwa uang negara habis untuk menyuap orang.” Tambah Indra.

“Saya hanya akan berhenti melakukan aksi protes ini jika pelaku dihukum sesuai dengan hukum yang ada atau saya meninggal dunia.” Pungkasnya.


Kasus yang sudah berjalan selama 23 tahun ini belum menemukan titik terang. Indra sendiri akan menagih komitmen Jokowi selaku presiden RI sekarang, dimana janjinya adalah memperdulikan rakyat kecil. (PG-11)

Artikel Terkait :

Luar Kampus 9076440517599811087

Posting Komentar Disqus Comments

item