flatnews

G30S 1965 Racikan Pahit Neo Kolonialisme

Oleh
(Mhd Ichsan Boer)

Pahitnya kopi  menimbulkan kecanduan, pahitnya racikan Neokolim (Neo Kolonialisme) menimbulkan anak bangsa perang saudara tak sedikit memakan korban. Ada yang diuntungkan dari sisi pahit, para penikmat kopi sangat bernafsu melumat cairan karena memang ingin merasakan pahinya secangkir kopi yang diracik, namun bagaimana jika bangsa ini susuguhi pahitnya saling bantai, monorehkan sejarah kelam bangsa akibat racikan pengaruh politik Neokolim pada fase peralihan orde lama ke orde baru ?

Jelas, racikan pahit Neokolim menguntungkan bangsa yang berwatak Neokolim itu sendiri . penulis bukan membabi buta menuduh Amerika Serikat sebagai dalang dari timbulnya pertumpahan darah pada 30 Sepetember 1965, namun disini penulis merujuk pada sebuah tulisan Rudi Hartono (Pimpinan Redaksi Berdikari Online)yang menjabarkan isi makalah berjudul Amerika Serikat dan Dimensi Internasional dari Pembunuhan Massal di Indonesia yang disampaikan oleh Bradley Simpson, dosen sejarah di Universitas Princeton, Amerika Serikat.

Makalah tersebut menyingkap keterlibatan Amerika Serikat secara langsung untuk menghancurkan Partai Komunis Indonesia (PKI) dan penyingkiran Soekarno serta memecah belah kalangan yang ada di Indonesia agar kepentingan menjajah baru politik dan ekonomi ala Neo Kolonialisme Amerika Serikat tidak mendapat halangan yang berarti, dan mulailah racikan pahit itu dimainkan.

Dari makalah yang disampaikan Bradlaey Simpson tersebut, Rudi Hartono menjabarkan dua kepentingan besar Amerika Serikat di Indonesia saat itu. Pertama, Amerika Serikat berkepentingan merubah haluan politik luar negeri  Indonesia saat itu yang terang-terangan anti Neo Kolonialisme dan Imperialisme, agar kembali kepangkuan barat. Kedua menjaga kepentingan ekonomi Amerika Serikat melalui perusahaan-perusahaannya yang beroperasi di Indonesia dan kalau memungkinkan, memperluasnya.

Menelaah sedikit kesimpulan diatas, Amerika Serikat membuat sebuah racikan pahit dalam misinya untuk Indonesia. Satu, menghancurkan PKI merupakan kekuatan politik utama yang menentang kepentingan politik-ekonomi Amerika Serikat di Indonesia. Kedua, mengulingkan Soekarno dan menciptakan rezim baru yang lebih sejalan dengan kepentingan barat.

Tak seperti racikan kopi pahit yang menimbulkan rasa pahit namun yang diuntungkan adalah penikmatnya bukan kopi. Racikan pahit Neokolim memunculkan carut marut politik ekonomi pada 1965 serta menimbulkan suasana mencekam tragis bagi negeri yang berideologi pancasila ini, terbunuhnya tujuh jendral yang dituduh akan mengkudeta Soekarno serta pembantaian massal terhadap rakyat dari golongan komunis yang dituduh dalang pemberontakan PKI sebuah genosida terbesar di negeri ini. Konsep berbau bangkai Neokolim telah memecah belah anak bangsadengan mengadu domba ketiga unsur (PKI-Soekarno dan Angakatan Darat) Neokolim telah memecahbelah anak bangsa dengan mengadu domba ketiga unsur tersebut. Negeri banjir darah seluruh pelosok tercium bau busuk mayat yang terlibat G 30 S 1965.

Ada sebuah teori “peran sebuah kelompok dalam sebuah kegiatan berbading lurus dengan keuntungan” dalam peristiwa G 30 S 1965 Soekarno adalah sosok yang paling dirugikan, termasuk juga kedua blok yang berseteru PKI dan Angkatan Darat dan yang bertepuk tangan adalah bangsa berwatak Neokolim. Miris prihatin, anak bangsa lelah menunggu kebenaran sejarah dimana negara mampu berterus terang dengan bijaksana bahwa Amerika Serikat adalah dalang dari tragedi tersebut.

Negara saat ini harus adil dalam mempublikasi sejarah termasuk dalam kurikulum disekolah-sekolah seluruh Indonesia agar generasi dapat membuka mata bahwasannya racikan pahit Neo kolonialisme adalah bahaya laten yang sangat mengancam.

Artikel Terkait :

Opini 3163824436333549042

Posting Komentar Disqus Comments

item