flatnews

Keterbukaan Sejarah Kaum Muda


             Oleh : M. Ichsan Efriananda
               (Sekjend UKM WK Soskem periode 2014)

Peristiwa-peristiwa penting dan besar menjelang kemerdekaan seperti Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan, perjuangan angkat senjata serta diplomasi pada 1940-an yang melibatkan angkatan muda saat itu makin jauh dari penghayatan generasi muda saat ini. Terbatasnya informasi tentang keikutsertaan kaum muda dalam sejumlah peristiwa-peristiwa penting itu makin memperlebar jarak antara kaum muda masa sekarang dengan pemikiran kaum muda masa lampau atau semakin jauhnya jarak meja berfikir kaum muda saat ini dengan sejarahnya. Buktinya, ketika sejarah sumpah pemuda diperkenalkan, yang selalu tergambar dalam pikiran kaum muda sekarang hanyalah segelintir kecil nama-nama pahlawan yang tercatat dalam buku sejarah pada kurikulum sekolah, padahal sejarah kaum muda tidak selebar daun kelor yang hanya berbicara tentang satu, dua atau tiga tokoh saja dalam peradaban merah putih masa silam.

Miskinnya lembar-lembar sejarah tentang kaum muda memang tidak berdampak secara masif kepermukaan namun jika kita kaji lebih jauh, kemiskinan  lembar sejarah tentang kaum muda ini membentuk sebuah generasi terkungkung yang hanya bicara itu-itu saja, tak ada pembaharuan kata-kata tentang berbagai tokoh yang terlibat dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia di warung kopi pemuda saat ini. Fenomena ini berpotensi akan bermuara pada ketidakseriusan kaum muda dalam perjuangan, mempunyai nasionalisme dangkal, berwatak sektarian, mengkotak-kotakkan golongan serta melakukan tindakan-tindakan sosial yang hanya mencari nama atau ikut-ikutan tidak bergerak dengan sebuah pisau bedah ideologi agar perjuangan kaum muda saat ini berdampak luas bagi masyarakat.

Fenomena miskinnya lembar-lembar sejarah tentang kaum muda tak lepas dari kepentingan politik beberapa oknum yang pernah menjabat di negeri yang berideologikan Pancasila ini, seperti zaman orde baru misalnya yang terlampau feodal serta arogan otoriter terhadap publikasi sejarah, buku sejarah pada zaman orde baru yang terdapat di sekolah ataupun tuko buku hanyalah buku sejarah yang ditulis pemerintah sehingga dengan terjerat kepentingan politik tersebut banyak tokoh-tokoh pemuda yang ikut serta dalam perjuangan membangun bangsa ini tidak dituliskan atau tidak dikategorikan sebagai pahlawan.

Misalnya nama seperti Tan Malaka, Tan Malaka adalah pemuda asal Sumatera Barat yang sewaktu muda ikut serta berfikir tentang konsep kemerdekaan. Sewaktu muda Tan Malaka aktif dibeberapa organisasi kepemudaan, mendirikan beberapa surat kabar yang berisikan perlawanan terhadap kolonial Belanda. Namun nama Tan Malaka tak pernah ditemui dalam buku sejarah di sekolah-sekolah hari ini, nama Tan Malaka seperti hilang tenggelam dalam tumpukan buku-buku pembangunan yang menjadi idola rezim orde baru. Belum lagi nama seperti Kartosoewirjo yang sejak umur belasan tahun sudah membangun sebuah gerakan untuk mengusir penjajah di wajah peradaban merah putih ini. Belum lagi soal DN Aidit, Wikana, Soekarni dll  seperti yang ditulis Sidik Kertapati dalam bukunya Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945, mereka adalah para pemuda yang pernah mendesak Soekarno-Hatta agar secepat mungkin memplokamirkan kemerdekaan. Namun wajah mereka jarang juga kita temui dalam buku sejarah hari ini disekolah sekolah belum lagi kisah fenomenal anak muda yang heroik pada rezim orde lama, Soe Hok Gie, mayoritas kaum muda sekarang tidak tahu siapa Soe Hok Gie, padahal kisah perjuangan yang akrap disapa Gie ini sangat layak dijadikan romantika bacaan anak muda zaman sekarang.

Begitu juga di zaman pasca reformasi saat sekarang ini, nama-nama seperti Munir, Widji Tukul, Marsinah juga pantas disebut anak muda pemberani dalam membela kepentingan rakyat , namun sayang buku-buku tentang perjuangan mereka hanya segelintir yang beredar ditengah-tengah masyarakat apalagi dikurikulum buku sejarah disekolah-sekolah.

Fenomena kemiskinan lembar sejarah pemuda ini hanya bisa dilawan dengan sikap bijaksana pemerintah, melepaskan ego politik masa lalu agar tulisan-tulisan sejarah tentang kepemudaan menjadi berimbang, dengan keberimbangan tersebutkan kekeyaan bahan-bahan sejarah kepemudaan akan kita temukan. Adil dalam publikasi sejarah, tidak menyembunyikan nama-nama yang pernah ikut serta dalam berjuang akan menjadikan bangsa ini bijaksana dalam berpolitik, serta kaum muda zaman sekarang mempunyai banyak tokoh-tokoh yang akan mereka pelajari garis perjuangannya.

Selain kebijaksanan pemerintah me-Reformasi kurikulum sejarah kepemudaan yang ada di sekolah-sekolah, para generasi muda sekarang sebaiknya lebih gencar lagi dalam membaca berbagai buku tentang sejarah kepemudaan serta aktif mendirikan lapak baca gratis yang berisikan berbagai tokoh pemuda, selain mengenal berbagai tokoh pemuda yang pernah berjasa namun namanya dilhilangkan juga dapat menebar benih minat baca pemuda saat sekarang ini.

Artikel Terkait :

Opini 841537784051424460

Posting Komentar Disqus Comments

item