flatnews

Menanti kandidat Rektor UPI”YPTK” Padang

Oleh: Nurdin Hamzah Hidayat 
SEKJEND BEMU REMA UPI”YPTK” 


Universitas Putra Indonesia ”YPTK” adalah Universitas pertama yang bergerak dalam penerapan pendidikan komputer di sumatera. Dalam sejarah pelemburan STMIK-AMIK dan STIE menjadi satu universitas dengan sejarah yang cukup kelam , demonstrasi bergulir terus menerus sejak tahun 2001 hingga tahun 2015 akhir oleh kelembagaan mahasiswa yang prihatin akan bobroknya kinerja rektorat dan fasilitas yang tidak memadai. Pergantian rektor pun sejak 31 tahun yang lalu tidak pernah melibatkan mahasiswa. Hal ini didasari dengan dalil bahwa keputusan pergantian rektor berada dalam rapat senat dan didalam senat itu sendiri tidak tergabungnya peran mahasiswa didalamnya.

Saat ini kita mengetahui bahwa rektor UPI”YPTK” telah mendapatkan gelar guru besar , beliau adalah guru besar pertama di Universitas ini. Dengan perjuangan bapak sarjon defit harus di apresiasi sebagai peningkatan mutu dosen dan pengajar dalam bidang keilmuan. Sepak terjang rektor cukup mumpuni, karna Universitas ini telah melakukan kerja sama dengan berbagai Universitas dalam negeri dan luar negeri, namun sayangnya hanya berbentuk teken kontrak tanpa tampak penerapannya.

Selama ini rektor terlihat hanya menjadi protokoler dalam setiap perjalanan luar kampus, namun usaha nama baik kampus diluar sumatera barat naik signifikan, ini dapat terlihat dengan membludaknya mahasiswa baru tahun 2016 dari luar sumatera barat.

Lemahnya peran rektorpun terlihat ketika mediasi kelembagaan yang melakukan aksi november 2015 lalu, jawaban dan penjelasan hanya di sampaikan oleh para wakil rektor dan pejabat dekanat yang hadir. Seharusnya bapak UPI”YPTK” menjadi garda terdepan di civitas akademika.

Hasil wawancara fungsionaris kelembagaan REMA UPI”YPTK” selama kurun waktu 2 minggu setelah HIRM 2016 kepada mahasiswa baru sangat jarang mahasiswa menjawab benar ketika ditanya siapa rektor UPI”YPTK”? siapa dekan fakultas masing-masing dan hanya segelintir saja yang menjawab benar siapa kepala jurusan .

Hal ini menandakan bahwa rektor dan pejabat dekanat tidak cukup dikenal, dan lemahnya pengenalan lingkungan kampus yang dilakukan oleh pihak rektorat saat masa pengenalan kampus di agenda ESQ . seharusnya mahasiswa baru mengenal rektorat dan dekanat hingga kajur karna hal-hal akademik berurusan dengan bagian akademik.

Mahasiswa menginginkan rektor yang bagaimana? Tentunya rektor yang bermahasiswa , maksudnya? Rektor yang ketika membuat peraturan atas dasar kesepakatan bersama, ketika bicara tentang tugas,pokok dan fungsi (TUPOKSI) yaitu Tri Dharma Perguruan Tinggi mahasiswa dilibatkan dengan aktif tentunya ada hubungan baik dengan kelembagaan mahasiswa di kampus.

Hal ini dirasa sangat kurang, dan harus ditingkatkan, bagaimana caranya? Dengan cara SK Rektor tahun 2009 harus di sosialisasikan kembali dan dapat di revisi jika tidak adanya kesepahaman dengan kelembagaan mahasiswa, kedua, harus adanya pengenalan bersama atau mengetahui aturan dasar dan anggaran rumah tangga antara rektor dan kelembagaan Republik Mahasiswa. Hal ini dirasa perlu karna saling tidak mengenal aturan masing-masing.

Jika saja adanya kedekatan antara mahasiswa dengan jajaran akademisi kampus berjalan dengan baik, maka akan sangat harmonis lingkungan kampus. Hal ini tentu mahasiswa bisa menilai siapa dosen atau pejabat kampus yang berintegritas,demokratik,dan memiliki leadership yang baik, bukan dari campur tangan pihak ketiga.

Insan kampus yang berdemokrasi akan membangun suasana nilai-nilai ilmiah dan saling bersaing demi kemajuan kampus, terlepas dari peran yayasan. Peran yayasan tak lebih hanyalah memberikan sumbangsih dana dan pengawasan tanpa ikut andil atau bahkan mendikte rektorat. Jika saja demokrasi berjalan sebagai mana mestinya maka kita akan melihat kondisi kampus seperti universitas swasta lainnya.

Sebut saja Universitas Paramadina yang dahulu dipimpin oleh bapak Anies Baswedan, adanya peran aktif mahasiswa dalam kegiatan kampus dan adanya pembangunan demokrasi dan nilai santun nan luhur. Tentu saja UPI”YPTK” mampu menjalankan proses demokrasi tersebut karena 12 prinsip dasar UPI ”YPTK” sudah mencerminkan bahwa kampus berkarakter, kampus berkarakter dengan menjunjung kolaborasi antara rektorat dan bersatu menjalankan Tri Dharma Perguruan Tinggi. Hal ini terlaksana jika sifat saling mencurigai tidak ada antara 2 instansi yang ada.

"Melangkah lebih maju" adalah harapan kita bersama, semakin naiknya akreditasi kampus adalah tujuan kita bersama, tentu ada sinergi yang aktif antara keduanya, harapannya adalah kampus menjadi ruang intelektual,dan berperan aktif didalam masyarakat, insan kampus yang telah wisudapun bukan hanya mendapat gelar semata saja. Semoga dengan adanya guru besar dan rektor baru yang berintegritas yang didengar dari suara mahasiswa maka kampus bisa lebih maju seperti slogan melangkah lebih maju yang digelorakan didalam ruang kelas setiap harinya.

Artikel Terkait :

Opini 5198200625381576070

Posting Komentar Disqus Comments

item