flatnews

Rema,Mahasiswa dan konteks kekinian

oleh Rahman hadi (Mahasiswa sistem informasi upi ‘yptk’)

Seperti seekor semut hanyut bergantung pada sepotong rumput yang diayun-ayunkan gelombang.- ibrahim dt.Tan malaka 

Pengembangan sumber daya manusia menjadi hal yang sangat urgen, mengapa demikian? Karena sumber daya manusia adalah suatu hal yang dapat mengimbangi sumber daya alam yang tidak terbatas di dunia ini. Tentunya tidak semua SDM yang ada dapat mengembangkan potensi serta kemampuannya. Banyak dari SDM yang ada tidak mampu mengembangkan potensi yang mereka miliki, salah satu penyebabnya adalah proses pembentukan mental dan daya pikir seseorang.

 Sebagaimana yang dijelaskan Tan Malaka dalam Madilog, bahwa ia berharap bangsa ini mempunyai mentalitas yang kuat dan tingkat intelektualitas yang tinggi,baik pada ranah kognitif maupun mental. Tujuannya agar seseorang atau bangsa ini mempunyai jati diri yang dapat diperjuangkan baik dalam membangun sebuah Negara ataupun mempertahankannya. jika seseorang yang mentalnya sudah terkontaminasi dengan hal-hal yang kaitannya dengan materiil, maka hal ini menjadikan dirinya seseorang yang mempunyai daya berfikir yang dangkal dan berfikir bahwa materiil hal yang paling urgen bagi dirinya, memang tidak dapat kita pungkiri bahwa materiil dapat membantu pembentukan mental seseorang, namun realita yang ada sekarang justru berbeda, karena saat ini kerap kali ketika tidak ada materiil, justru seseorang malas untuk berfikir dan bertindak. 

Hal ini menjadikan mentalitas rakyat kita, atau mentalitas bangsa kita khususnya Indonesia adalah mentalitas yang dijajah oleh materiil, yang acapkali mempengaruhi mentalitas daya berfikir seseorang, yang hanya bekerja jika ada imbalan, membantu karena mengharapkan imbalan dan sebagainya. Hal ini mempengaruhi seluruh elemen masyarakat baik itu guru, dosen, pemimpin dalam organisasi dan justru mahasiswa yang menjadi harapan masyarakat sebagai “agent of change” (agen perubahan) kini terkena dampaknya. karena realita yang ada saat ini justru tidak sedikit guru atau dosen kini hanya berorientasi pada nilai materiil, banyak dari mereka meninggalkan kewajibannya sebagai seorang pengajar. Guru yang sibuk dengan dana honor dan dosen yang semakin sibuk dengan gaji buta yang diperebutkan. 

Mengapa hal ini terjadi? Ini karena pengaruh dari mentalitas dan daya berfikir seseorang. Ketika orientasi hidupnya hanya untuk kesenangan materiil maka yang terjadi adalah demikian. Hal ini berimbas pula kepada para mahasiswa yang mempunyai kekuasaan baik dalam lingkungan intra kampus maupun ekstra kampus. 

Mahasiswa yang diharapakan idealitasnya dalam berfikir, kini berfikir bahwa nilai materi adalah menjadi hal yang sangat urgen, benar adanya jika materi menjadi hal yang sangat urgen, namun bukan berarti tujuan serta orientasi hidup hanya berkutat pada materi dengan jalan pintas berorientasi hanya untuk opportunis bukan lagi sebagai profesionalitas.

Para mahasiswa yang dulunya dikenal sebagai intelektual progressif, kini hanyalah impian belaka,mereka yang mempunyai jabatan dalam intra maupun ekstra kampus berorientasi pada ranah popularitas. Mereka melakukan aksi, orasi, dan sebagainya bukan untuk tujuan profesional tetapi mereka ingin mencari popularitas baik untuk dirinya pribadi maupun organisasi ekstra yang mengusungnya ke dalam intra kampus. 

Dalam hal ini kita sebagai mahasiswa sudah seharusnya tidak apatis dengan kondisi diatas, sebagai akademisi kita tidak hanya bergelut dalam dunia perkuliahan saja demi nilai dan ipk yang baik, sudah seyogyanya kita merubah gaya hidup kita yang hedonis dan apatis dengan berkontribusi baik sebagai fasilitator dalam pemilihan,memberikan kontribusi dan tak lupa kitapun perlu menghantam birokrat korup yang semena-mena dengan masa aksi.

 Karena penulis meyakini bahwa masyarakat masih tetap menganggap gerakan mahasiswa adalah gerakan moral yang bisa dipercaya dan bebas kepentingan, lingkungan akademis yang digeluti mahasiswa menjadi keyakinan rakyat bahwa gerakan mahasiswa akan selalu rasional dan bertindak kepada rakyat.

Artikel Terkait :

Opini 3822700653031056789

Posting Komentar Disqus Comments

item