flatnews

Meningkatkan Eskalasi Alam dan Keabsahan Religi Muslim di Kota Padang

Sesuai tema Kearifan Lokal dan C egah Paham Radikal dan Terorisme , menyikapi bab terataskan 4 Sub , yakni Kerukunan dan Perdamaian - T...


Sesuai tema Kearifan Lokal dan Cegah Paham Radikal dan Terorisme, menyikapi bab terataskan 4 Sub, yakni Kerukunan dan Perdamaian - Toleransi - Mengatasi Kesenjangan Sosial - Solidaritas. Alhamdulillah saya telah menyimpulkan dari kiasan pemikiran saya dan memperoleh judul "Meningkatkan Eskalasi Alam dan Keabsahan Religi Muslim di Kota Padang.”
Mengingat dan mengetahui judul ini, penulis teringat akan kebaikan, kesederhanaan, dan pelestarian alam yang setidaknya memberikan hal positif. Akan tetapi, dimana baru-baru ini hal negatiflah yang muncul di Padang, selayaknya gempa dua kali terjadi pada Jumát tanggal (1/9) berkekuatan 6,2 SR mengguncang beberapa wilayah di Sumatra Barat, pukul 00.06 WIB dan yang kedua pada tanggal (5/9), berkekuatan 4,2 SR pukul 09.52 WIB, hal ini dilansir dari Wordpress. Apa penyebabnya bersangkut pautkah atau menyatukah layaknya simpulan tali yang diikat? Yang mana hal itu dikaitkan dengan kearifan geologis dan kepercayaan religi kita.
Jelas, mutlak, real, mungkin kodratnya. Dikarenakan keagamaan di era kemajuan teknologi kini sekiranya kepercayaan beragama teralihkan dengan kebutuhan sosial di layar LED yang belum tentu menghasilkan dampak-dampak keeksistensian yang bagus atau kejauhan pada Sang Pencipta. Dalam menggenjot keumuman alam secara baik, diperlukan tahapan-tahapan, alur, proses, progres yang mumpuni. Dimana di Kota Padang sendiri alhamdulillah telah memliki orang yang mempunyai iman dan agama dengan membentuk kelompok religi yang berakhlak dan berakidah, serta juga melantik kehidupan berorientasikan kebersamaan dalam pertemuan silaturahmi secara langsung (muslimsumbar.wordpress.com). Tetapi dalam kesenjangan sosial itu masih penuh akan kekurangannya. Disini masih terdapat banyak sekali kecaman, kegigihan dalam kenegatifan, tatakrama yang minus, kekurangan adab dan kasih sayang. Candu mungkin itu yang mengekspresikan rasa sendu Allah melalui alam. Dikhususkan pada remaja di daerah Sumatra Barat yang memliki perekonomian tidak sesuai dengan kesenjangan yang seharusnya, dapat menjadikan mereka memilih lebih kearah yang negatif layaknya kekejaman dengan derasnya alur G30S/PKI zaman ini. Yang mana telah kembali marak dan mengembang ruang, layaknya kelopak bunga yang mekar pada musimnya. Terosisme adalah kebencian kepada kekurangan ekonomi yang mengarahkan kepada pemerintah. Jadi, seharusnya kita benar-benar menelaah akan radikalisme ekstrem dengan jalan kekerasan biadab yang tidak jelas ini. Seharusnya kita dapat memahami mana yang baik dan buruk. Permasalahan ini sangat rumit karena siapa yang harus bergerak? Apakah media pers, pemerintah, rakyat atau masyarakat miskin? Enggankah pilar-pilar dari kita yang beragama untuk beraksi. Bisa saja dari sedikit pembahasan diatas, kita harus mengetahui terlebih dahulu dari kearifan lokal budaya Sumatra Barat, seperti Rimbo Larangan (Hutan Larangan), Banda Larangan (Sungai, Anak sungai Larangan), Tabek Larangan (Tebat Larangan), Parak dan lainnya. Di Padang sendiri, kearifan lokal mulai tergantikan dengan kemakmuran perkembangan kota seperti halnya mall, dan swalayan berukuran besar lainnya, seperti Plaza Andalas dan Transmart yang menduduki kegemaran remaja di kota Padang ini. Hal ini menyebabkan kejatuhan pada kearifan lokal.  Kapan dan dimana, merujuk pada kesetaraan antara kearifan lokal yang mencerminkan religi muslim yang mendapati sisi berkharisma dan menyatu umpama embun dalam rintik hujan. Mungkin keresahan yang menuai ini akan selalu tumbuh karena kekuranganlah yang merajalela bak hakim yang tidak tidur selama ia mengemban tugasnya dikala on fire. Itulah hakikat dan realitas, dimana sulitnya menemukan manusia yang jujur, pandai sikap, normatif dalam kesopanan dan selalu taat akan perintah Allah. Hal ini mungkin sudah tiada lagi, layaknya jentikan jari menghasilkan suara yang hilang dengan cepatnya. Dimana persepsi dunia yang menggelegar menghakimi bahwa seribu kebaikan tidak akan menjadikanmu layaknya malaikat, tetapi satu keburukan sudah cukup menjadikanmu iblis. Itulah yang membuat manusia mengambil sudut pandang ke jalan yang negatif. Penulis juga mendambakan kearifan lokal yang layak dikota Padang ini, seperti dilansir dari perkataan Walikota Padang setahun silam (18/05/2016) dalam acara kegiatan Sarasehan Revitalisasi Pengetahuan Tradisional dan Ekspresi Budaya Mentawai.
"Kita diajarkan mengenal budaya di masyarakat. Masyarakat Mentawai menggunakan potensi yang ada disekitar dalam menjalani kehidupan,” ujar H. Mahyeldi, Dt., Marajo.
Dilansir dari Valoranews, kegigihan dan keyakinanlah yang benar-benar menghasilkan perwujudan makna diatas. Alangkah baiknya penjabaran dari tiap-tiap kearifan lokal di Nusantara perlu kita ketahui. Penulis mengantarkan pembaca kepada tradisi di Sumatra Barat, terkhususnya Padang yang lokasi logistiknya masih di ruang lingkup Sumatra Barat. Sumatra Barat mendapati hakikatnya dengan kebudayaan dan tradisi yang beragam terutama etnis di Padang sebagian besar yaitu Minangkabau. Walaupun beberapa telah lenyap disapu akan keberagaman modernitas yang besar di zaman ini. Salah satu tradisi yang masih dijalankan atau dipertahankan di daerah Minangkabau hingga saat ini yang dilansir dari Info Sumbar, seperti Pacu Jawi.
Pacu Jawi merupakan tradisi unik yang menjadi favorit karena dianggap seru dan memacu jiwa semangat atau adrenaline. Tanah Datar itulah sebutan daerah yang mengharumkan kearifan lokal satu ini. Khusunya daerah Kecamatan Sungai Tarab, Rambatan, Limo Kaum dan Pariangan. Kabupaten Limapuluh Kota dan Payakumbuh juga melaksanakan kearifan lokal ini. Tidak dapat disangkal, Pacu Jawi persis mirip dengan Karapan Sapi di Madura yang kearifan lokalnya yang sama-sama eksis di Nusantara ini. Tetapi, kedua kearifan lokal ini tidaklah sama, salah satu perbedaannya dari lahan yang digunakan. Karapan Sapi di Madura menggunakan lahan sawah yang bisa dibilang kering sedangkan Pacu Jawi dilaksanakan di lahan yang basah .
Mungkin aku pencerca yang ulung,
penulis yang urung dikarenakan ada dua hal di dalam satu konsep
Ada yang terduduk dan ada yang berdiri
Ada yang menangis dan ada yang tersenyum
Ada yang membuka mata dan ada yang menutupnya
Ada yang bersiul dan ada pula yang terheningkan
Ada yang mencemooh dan ada yang memahami
Karena keseimbangan dari hal-hal itu perlu
Sehingga aku melihat sekeliling dan mendeksripsikan dengan beberapa aroma sajak dan puitisan puisi.

Terimakasih (Yoga Jafni Pratama Putra)

Artikel Terkait :

Esai 7469574913088794136

Posting Komentar Disqus Comments

item