flatnews

Demokrasi Setengah Tiang Di FEKON UPI “YPTK”

Oleh : M. Ichsan Efriananda, S.Kom  (Forum Pemuda Pegiat Demokrasi & Alumni UKM WK-Soskem UPI “YPTK” Padang) Jika kita melihat org...

Oleh :

M. Ichsan Efriananda, S.Kom

 (Forum Pemuda Pegiat Demokrasi & Alumni UKM WK-Soskem UPI “YPTK” Padang)

Jika kita melihat organisasi mahasiswa, maka suatu hal yang jelas terpapar adalah sosok manusia yang mempunyai label intelektual, hal itu sudah terekam jelas dari sejak bangsa ini memiliki kaum terpelajar baik pra kemerdekaan maupun pasca kemerdekaan. Berkumpulnya para mahasiswa dalam sebuah wadah sudah menjadi barang tentu bagi landasan berfikir kita adanya proses-proses berdemokrasi dalam wadah tersebut, baik itu ditingkat jurusan, fakultas maupun tingkat universitas. Proses demokrasi dalam keorganisasian mahasiswa bisa menjadi gambaran bagi masyarakat dalam menilai bagaimana sejatinya mahasiswa itu menggunakan intelektual mereka dalam sebuah tindakan, apakah mereka melaksanakan demokrasi secara baik maupun mereka melaksanakan demokrasi secara serampangan.

Bebarapa Minggu yang lalu proses pesta demokrasi menghampiri Fakultas Ekonomi (Fekon) Universitas Putra Indonesia(UPI “YPTK” Padang) yang bertujuan untuk memilih pemimpin baru kelembagaan mahasiswa tertinggi di Fekon UPI “YPTK” Padang, yakni pemilihan Gubernur Dan Wakil Gubernur BEM Fekon periode 2017-2018. Pesta demokrasi ini menjadi sebuah ajang yang ditunggu- tunggu karena selain memilih pemimpin baru juga proses evaluasi bagaimana kinerja periode sebelumnya, baik itu kinerja BEM Fakultas maupun DPM Fakultas maka bagus atau tidaknya pesta demokrasi ini juga menjadi gambaran bagi kita bagaimana kinerja BEM Fekon dan DPM Fekon periode sebelumnya, apakah mereka berlembaga secara baik dan benar, berorganisasi secara asal-asal asalan atau berorganisasi hanya sebagai pajangan wajah ketika penyambutan mahasiswa baru, karena baik- buruknya sebuah demokrasi dikelembagaan mahasiswa juga tergantung kepada hasil kerja dan pola pikir para pemimpinnya, atau kejelian penentuan ketua pelaksana pesta demokrasi tersebut.

Pesta demokrasi yang dikenal dengan Musyawarah Besar “Mubes” ini mempertemukan dua pasang kader terbaik yang bertarung memperebutkan kursi No 1 dan No 2 di kelembagaan mahasiswa tertinggi di Fekon UPI “YPTK” Padang, Gusmarita dan Sherly Alfian dengan nomor urut 1 serta Nofil Aiman dan Nurlis Mayuliati  dengan nomor urut 2. Secara teknis administrasi, perjalanan Mubes ini relatif berjalan dengan lancar ditandai dengan lolosnya kedua pasang calon dalam uji kelayakan dan dipersilahkan bersaing dalam kompetisi mengambil hati masyarakat Fekon agar mendapat suara sebanyak-banyaknya untuk menghantarkan ke kursi Gubernur dan wakil Gubernur Fekon UPI “YPTK”. Dalam konsep kelembagaan yang menganut sistem Repubik yang secara bangga menamai Republik Mahasiswa (REMA) maka sudah sangat pasti bagi para organisatoris yang menjalankan demokrasi ini sebaik mungkin, tanpa adalanya kecurangan dan sangat memegang teguh prinsip keadilan. Dengan menyelengarakan Mubes maka prinsip-prinsip demokrasi dalam kelembagaan yang menganut sistem republik sudah menjadi sebuah kewajiban, namun apa jadinya ketika kewajiban tersebut dijalankan secara asal-asalan oleh panitia mubes yang berdampak pada nasib kelembagaan serta  kekecewaan pasangan nomor urut 1 yang merasa terzhalimi secara politik, demokrasi yang dijalankan oleh panitia mubes Fekon yang merupakan  kader-kader pilihan tersebut sangat kental dengan unsur-unsur label berdemokrasi secara tidak terdidik.

Pemaparan mengenai pelaksanaan demokrasi asal-asalan pada mubes Fekon 2017 ini serta panitia yang sudah sepantasnya kita beri label berdemokrasi secara tidak terdidik, bukan tanpa alasan dan spekulasi yang membabi buta. Dalam hal berdemokrasi, aspek-aspek teknis dalam menjalankannya sangat berpengaruh kuat terhadap tujuan demokrasi tersebut, jika aspek teknis yang baik tidak tercipta maka proses demokrasi yang jujur dan berkeadilan  tidak akan terlihat meskipun memakai sebuah mikroskop, pasalnya Pertama, terdapat temuan surat suara yang tidak sebanding dengan jumlah mahasiswa Fekon, surat suara  yang dicetak dan didistribusikan tidak sampai untuk setengah jumlah mahasiswa Fekon, jumlah mahasiswa Fekon kurang lebih 4000 mahasiswa mulai dari angkatan 2014-2017 namun surat suara yang dicetak oleh Panitia hanya 1500 surat suara, sebuah gambaran angka-angka yang sudah jelas terlihat dari cacat pikir pelaksanaan demokrasi di Fekon UPI “YPTK” Padang yang diciptakan oleh panitia mubes sendiri yang bertindak sebagai pengadil dalam kompetisi, seharusnya surat suara yang dicetak dan didistribusikan harus sesuai dengan jumlah mahasiswa bahkan harus dilebihkan jika nantinya ada surat suara yang rusak agar seluruh mahasiswa Fekon UPI “YPTK” Padang dapat menggunakan hak pilih mereka. Kedua, tata cara pemungutan suara dengan masuk ke kelas-kelas, dimana panitia tidak masuk ke suluruh kelas, maka tidak seluruhnya mahasiswa Fekon UPI “YPTK” Padang dapat menentukan pemimpin mereka satu periode kedepan. Dan yang lebih kita sayangkan, hal ini seperti hal yang biasa saja, ditandai dengan mogoknya cara berfikir DPM Fekon dalam mengawasi pesta demokrasi tersebut serta belum terlihatnya etikat baik dari para pengurus organisasi REMA UPI “YPTK” dalam memperjelas dan mengusut temuan ini.

Jika melihat rumusan Joseph Schmpeter yang dipaparkan oleh Bertolomeus Bolong dalam buku “Demokrasi Pribumi” demokrasi secara sederhana sebagai sebuah metode poltik , sebuah mekanisme untuk memilih pemimpin politik, warga negara diberikan kesempatan untuk memilih salah satu diantara pemimpin-pemimpin politik yang bersaing memilih suara, atau Abraham Lincoln dalam setiap pidatonya selalu mengatakan demokrasi adalah sistem pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat,  Bagaima mungkin demokrasi yang kita inginkan terlaksana jika tidak semua mahasiswa Fekon diberkan kesempatan dalam menentukan siapa pemimpin mereka satu periode kedepan. Ekositem berdemokrasi yang hampa akan berkeadilan tersebut telah mencoreng wajah kelembagaan di REMA UPI “YPTK” Padang terkhusus kelembagaan Mahasiswa Fakultas Ekonomi yang berujung pada berkibarnya bendera demokrasi setengah tiang di wajah FEKON UPI “YPTK”.          



Artikel Terkait :

Opini 2553627530398787178

Posting Komentar Disqus Comments

item